Minggu, 26 September 2010

BERMULA DARI KEKUATAN TEKAD


Dimulakan dengan bismillah... sebagai tanda di mulakan dengan hal yang baik... bismillah memiliki arti permulaan yang di mulai dengan nama Allah. Kehidupan didunia tidak slalu di hadapan dengan keindahan... adakalanya kita mengalami kedukaan ataupun tertundanya terwujudnya keinginan kita. Kebulatan tekad dalam melangkah menjadi suatu hal yang harus dimiliki seseorang dalam menjalankan suatu aktivitas. Ada kalanya kita memulai sesuatu dengan kekosongan secara finansial namun secara luar biasa akan berubah menjadi suatu hal nyata jika kita memiliki tekad dan digantungkan harapan pada pemilik jiwa ini.

Tekad adalah jembatan di mana pikiran-pikiran masuk dalam wilayah fisik dan menjelma menjadi tindakan. Tekad adalah energi jiwa yang memberikan kekuatan kepada pikiran untuk merubahnya menjadi tindakan. Misalnya saja seorang ayah yang ingin memberikan nafkah untuk anak dan istrinya dengan harta yang halal, ia tak ingin melihat anak dan istrinya menjadi penghuni neraka karena penghasilan yang diperoleh dengan jalan yang haram. Ketika tekad seorang ayah sudah bulat memberikan harta yang halal. Maka ia akan mengarahkan segenap kemampuannya untuk mewujudkan tekadnya dengan baik, walau banyak rintangan yang ingin menggoyahkan tekadnya. Maka ia akan menfokuskan fikiran, fisik dan perasaannya pada satu tekadnya diimpikannya.

Aktifitas yang kita lakukan memang membutuhkan tekad yang bulat, tekad akan mucul melalui beberapa cara diantara nya sebagai berikut:

Memiliki tujuan yang jelas
Terkadang manusia mengalami kebingungan dalam menetapka tujuan, sehingga akan merasa hampa setelah selesai melakukan suatu aktifitas. Sehingga akan muncul pertanyaan, untuk apakah saya bekerja ??... Untuk apa saya sekolah??... Mungkin sekilas kita memiliki jawaban seperti saya bekerja untuk mencari uang, membeli rumah, membeli mobil. Namun itu semua adalah tujuan jangka pendek, setelah semua tujuan jangka pendek terpenuhi. Maka akan muncul pertanyaan lagi untuk apa ini semua ???
Tidak ada salahnya kita menetapkan tujuan jangka pendek, namun jangan kita melupakan tujuan jangka panjang yang hakiki yaitu ibadah mencari ridho Allah SWT.
Melakukan aktivitas namun tidak tau apa yang akan diraih, membuat kehidupan menjadi hampa dan mengalami kebingungan.


Maksimalkan usaha

Usaha merupakan suatu energi yang disalurkan oleh tubuh manusia sehingga membuat seseorang manusia bergerak melakukan sesuatu yang diinginkannya. Manusia diciptakan Allah memiliki keinginan dan harapan, kedua hal ini adalah energi yang mampu menggerakan fikiran, fisik dan perasaan untuk memaksimalkan usaha. Misalnya saja orang yang memiliki keinginan memiliki rumah sendiri dengan harapan jika berumah tangga tidak lagi ngontrak. Maka ia akan mengarahkan fikiran untuk mencari cara untuk memenuhi kebutuhannya itu, sehingga ia akan merasakan semangat saat satu cara diketemukan. Setelah cara dan semangat telah dimiliki, maka ia akan dengan ringan mengarahkan fisiknya untuk berbuat sesuatu. Maka ketika ia telah berbuat sesuatu itulah salah satu tanda orang telah memaksimalkan usaha untuk meraih tekadnya diinginkan.




Saatnya Tawakal

Saat mimpi telah diukir dan harapan berbuah usaha maka saat manusia bertawakal. Dari Umar bin Khattab ra berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah SWT dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rizki (oleh Allah SWT), sebagaimana seekor burung diberi rizki; dimana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah). Terkadang segala tekad yang ingin diwujudkan menghadapi berbagai rintangan. Rintangan yang bersumber dari diri sendiri atau rintangan yang bersumber dari lingkungan. Rintangan yang dilalui ibarat pisau yang diasah oleh batu yang keras sehingga pisau itu menjadi tajam. Kekuatan tekad akan teruji dengan adanya rintangan, namun sangat diperlukan tawakal yang akan menyelamatkan manusia pada ambisi tanpa batas, atau putus asa yang merobohkan. Allah memerintakan orang untuk bertawakal setelah membulatkan tekad. Sebagaimana Qs 3 :159 sebagai berikut :
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
by. Cahaya Hati (FC)

Kamis, 26 November 2009

Makin Dini Pacaran Makin Depresi dan Sakit-sakitan

Jakarta, Jangan dulu pacaran kalau masih kecil. Begitu nasihat yang sering disampaikan orangtua pada anaknya yang masih remaja. Ternyata nasihat orangtua itu didukung oleh peneliti, semakin dini seseorang menjalin cinta semakin besar risiko sakit hati, depresi bahkan sakit-sakitan.

Dalam Journal of Pain, peneliti dari Universite de Montreal, University Hospital Center dan McGill University menemukan anak remaja yang mulai pacaran sejak usia dini lebih banyak mengalami sakit kepala, perut dan pinggang. Mereka juga dilaporkan lebih banyak depresi dibanding rekan seusianya yang belum pernah pacaran.

Dr Isabelle Tremblay, seorang peneliti dari Universite de Montreal serta Dr Michael Sullivan, seorang profesor psikolog dari McGill University telah melakukan studi untuk mengetahui pengaruh menjalin hubungan sejak dini terhadap kesehatan seseorang.

Sebanyak 382 pelajar remaja berumur rata-rata 12 hingga 17 tahun di Kanada direkrut sebagai partisipan penelitian. Mereka diminta untuk mengisi kuesioner tentang frekuensi dan intensitas mengalami gangguan emosi serta fisik dan juga usia awal mengenal cinta.

Hasilnya yaitu, seseorang yang mengenal cinta lebih dini cenderung menjadi pribadi yang rapuh, sakit-sakitan, merasa tidak aman dan mudah depresi. "Gejala itu berkembang dari sejak masih kanak-kanak, lalu remaja dan akhirnya ketika dewasa," ujar Sullivan seperti dilansir Sciencedaily, Kamis (26/11/2009).

Peneliti belum sepenuhnya mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Namun, kesimpulan yang dinyatakan peneliti adalah, seseorang yang menjalin hubungan sejak dini, contohnya remaja, akan memiliki alarm rasa sakit yang lebih tinggi, terutama jika remaja itu menjalin hubungan yang buruk dengan pasangannya.

"Mereka punya kecenderungan tingkat rasa sakit yang lebih mendalam. Mereka benar-benar meresapi perasaan buruk seperti sedih atau kesal karena secara psikologi mereka sudah mengenalnya ketika berhubungan dengan pasangannya,"jelas Sullivan.

Tapi akibat terlalu mendalami perasaan sedih dan emosional itu adalah depresi dan penyakit lainnya. "Karena terlalu sedih atau marah, perasan depresi pun bisa muncul. Akibatnya mereka jadi tidak mau makan, kurang tidur atau tidak mau melakukan apa-apa. Dari situlah muncul penyakit-penyakit seperti pusing, sakit perut dan lainnya," jelas Sullivan.

Mereka yang mengenal cinta dan mengalami masalah dalam berhubungan dengan pasangan lebih dulu memiliki pandangan yang lebih serius dan sikap yang lebih tertutup. Hal itu memicu perasaan stres dan penyakit fisik lainnya.

Sementara itu, mereka yang belum menjalin cinta pada usia dini cenderung lebih ekspresif dan lebih banyak bersosialisasi dengan yang teman-teman lainnya sebagai bentuk mencari dukungan pada saat mereka sedih atau tidak ada masalah.(fah/ir) Sumber :http://health.detik.com/

Senin, 28 September 2009

Menangis Ternyata Bermanfaat

Liputan6.com: Manusia mana yang tak pernah menangis? Hampir tidak ada. Karena itu adalah fitrah manusia. Sedingin dan sebeku apa hati seseorang, bukan berarti ia tidak pernah menangis, setidaknya sewaktu ia bayi. Selama ini sejumlah ilmuwan telah mengaitkan aktivitas menangis dengan beberapa hal, seperti membantu menyingkirkan kimiawi stres dalam tubuh. Aktivitas mengundang air mata ini juga ditengarai mampu membuat perasaan menjadi lebih baik, nyaman, dan tenang. Bahkan bagi bayi, menangis dapat disimbolkan sebagai pemberitahuan bahwa ada masalah pada bayi.

Kini ilmuwan menambah satu lagi daftar fungsi menangis dalam kehidupan manusia. Oren Hasson, seorang ilmuwan dari Univesitas Tel Aviv, Israel, mengungkap menangis dapat dijadikan sebagai penghalang keagresifan yang dimiliki seseorang. Dengan air mata seseorang sebenarnya tengah menurunkan mekanisme pertahanan dirinya dan memberikan simbol dirinya tengah menyerah. Di dalam relasi kelompok, menangis bisa dianggap sebagai bentuk keterpaduan antara satu dengan lainnya. Lantaran alasan itulah menangis dapat membuat hubungan sosial menjadi lebih dekat, sehingga mampu memupuk persahabatan menjadi lebih langgeng.

Apakah itu berlaku dalam hubungan petemanan saja? Sepertinya tidak. "Jika engkau ingin menunjukkan penyerahan diri pada lawan dan menarik simpati darinya, engkau bisa menangis," ujar Oren Hasson, seperti dikutip Livescience. Ia sepertinya ingin mengatakan hubungan "pertemanan" dengan musuh juga bisa dibangun lewat menangis.

Meski demikian menangis tidak akan selalu manjur dalam beberapa kondisi. Oleh sebab itu dalam beberapa kesempatan menangis justru tak dapat memberikan dampak seperti yang diperkirakan. Bahkan sebaiknya dihindari. Dalam bekerja misalnya, aktifitas menangis bahkan sebaiknya tak perlu ditampakkan. Mungkin dalam bekerja menangis justru akan ditanggapi sebagai bentuk kelemahan dan sifat menyerah yang sangat dijauhi dalam dunia kerja. Tapi mungkin tak berlaku untuk profesi yang menuntut empati.(DIO)